Bahaya kandungan zat dalam makanan jajananan

Seperti yang kita tau saat ini banyak sekali jajanan-jajanan di pinggiran jalan atau bahkan di sekolah-sekolah seperti di sekolah SD yang sering kita jumpai.Seperti kendaraan, tubuh kita membutuhkan energi dan bahan lain untuk dapat beraktivitas dan makanan menjadi sumber energi dan berbagai zat gizi pendukung hidup tersebut. Tetapi, makanan dapat menjadi wahana bagi unsur pengganggu kesehatan manusia. Bahaya yang timbul dari makanan/ minuman sering disebut sebagai keracunan makanan. Keracunan makanan bisa disebabkan oleh unsur fisik, kimia dan biologis. Pada makanan jajanan, bahaya tersebut dapat terjadi melalui berbagai cara: dari pangan itu sendiri, pekerja, peralatan, proses pengolahan dan pembersihan serta dari konsumen. 1. Bahaya Fisik Pernahkah anda memakan gado-gado yang ada karet didalamnya? Atau menemukan rambut didalam mie baso yang sedang dikonsumsi? Atau melihat penjual gorengan yang dengan cuek memasukkan kembali potongan tahu mentah yang sudah jatuh dan berlumur tanah? Benda asing seperti rambut, kuku, perhiasan, serangga mati, batu atau kerikil, potongan kayu, pecahan kaca dan lain sebagainya bisa masuk kedalam makanan apabila makanan dijual di tempat terbuka dan tidak disimpan dalam wadah tertutup; penjual mengenakan perhiasan tangan atau kantong pakaiannya berisi uang logam atau bahan lain yang berpeluang jatuh kedalam makanan atau kecerobohan penjual selama menangani makanan dan bahan pangan. Benda asing seperti gelas dan logam dapat mencederai secara fisik misalnya gigi patah, tercekik, melukai kerongkongan dan saluran pencernaan. Benda asing lainnya bisa menjadi pembawa mikroba berbahaya kedalam makanan dan menyebabkan keracunan makanan. 2. Bahaya Kimia Gangguan kesehatan karena unsur kimia terjadi karena penggunaan bahan tambahan secara sengaja kedalam pangan, karena masuknya cemaran bahan kimia kedalam pangan, dan karena racun yang ada didalam bahan pangan. Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami BUKAN merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mengawetkan makanan, membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak di mulut, memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga menambah selera, meningkatkan kualitas pangan dan menghemat biaya. Penggunaan BTP dalam jumlah yang diizinkan, tidaklah berbahaya terhadap kesehatan konsumen. Tetapi, jika menggunakan BTP secara berlebihan atau jika menggunakan bahan tambahan terlarang didalam makanan, akan menyebabkan gangguan kesehatan bagi tubuh. Beberapa bahan tambahan terlarang untuk pangan terakumulasi didalam tubuh dan telah terbukti dapat menyebabkan kanker yang gejalanya tidak dapat terlihat langsung setelah mengkonsumsi makanan. Bahan pewarna, pengawet dan pemanis buatan merupakan bahan tambahan pangan yang sering disalahgunakan pemakaiannya. Contoh penggunaan bahan aditif non pangan adalah penggunaan pewarna tekstil untuk pangan sebagai bahan pewarna makanan atau penggunaan formalin dan boraks sebagai pengawet bahan hewani (ayam, ikan) dan produk olahannya juga pengawet untuk tahu dan mie. Pernahkah anda menjumpai makanan atau minuman yang warnanya sangat terang (merah menyala atau kuning terang)? Atau makan tahu dan bakso yang teksturnya sangat kenyal? Atau meminum minuman yang rasanya sangat manis tapi kemudian meninggalkan rasa lain (pahit atau getir di lidah)? Makanan seperti ini kemungkinan mengandung bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan kita. Bahaya kimia juga berasal dari cemaran kimia yang masuk kedalam pangan misalnya cairan pembersih, pestisida, cat, minyak, komponen kimia dari peralatan atau kemasan yang lepas dan masuk kedalam pangan. Logam berat masuk melalui air yang tercemar, kertas koran yang digunakan untuk mengemas makanan dan asap kendaraan bermotor. Beberapa bahan pangan secara alami mengandung toksin atau bahan beracun. Contohnya jamur beracun, singkong racun, jengkol, ikan buntel, dan sebagainya. Sebagian besar toksin penyebab penyakit ini tidak berasa dan tidak bisa dihancurkan dengan proses pemasakan.

3. Bahaya Biologis Bahaya biologis bisa disebabkan oleh mikroba dan binatang. Mikroba lebih sering menyebabkan keracunan makanan dibandingkan bahan kimia (termasuk racun alami) dan bahan asing (cemaran fisik). Walaupun ada mikroba yang tidak berbahaya dan bahkan digunakan untuk membuat produk makanan seperti kecap, yoghurt dan tempe tetapi, banyak juga yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia dan hewan. Makanan menjadi beracun karena tercemar oleh mikroba tertentu dan mikroba tersebut menghasilkan racun yang dapat membahayakan konsumen. Bakteri adalah mikroba sel tunggal yang merupakan penyebab utama dari keracunan makanan. Bakteri ada dimana-mana: di udara, air, tanah, tanaman dan hewan bahkan pada makanan yang kita makan! Walaupun beberapa bakteri bisa menyebabkan keracunan makanan, tetapi sebagian besar bakteri yang ada pada makanan hanya bersifat merusak makanan (bakteri pembusuk). Seberapa besar jumlah bakteri yang bisa menyebabkan kita menjadi sakit? Hal ini sangat tergantung pada jenis bakterinya dan kondisi kesehatan kita. Beberapa bakteri, dalam jumlah sedikit saja bisa menyebabkan keracunan makanan sementara bakteri yang lain mungkin menyebabkan keracunan jika jumlahnya besar. Yang perlu dicermati adalah bahwa orang tua, anak-anak dan orang yang baru saja sembuh dari sakit adalah kelompok dengan daya tahan tubuh yang relatif lemah sehingga beresiko tinggi untuk terkena keracunanan makanan. Bakteri berkembang biak dengan membelah diri menjadi dua. Pada kondisi ideal pertumbuhannya, mereka akan membelah diri setiap 10-30 menit. Jika satu bakteri membelah diri setiap 20 menit, maka setelah tujuh jam akan terdapat lebih dari dua juta bakteri! Jumlah ini lebih dari cukup untuk menyebabkan penyakit. Karena sebagian besar makanan biasanya mengandung beberapa bakteri, maka dapat dibayangkan bakteri hanya butuh waktu yang singkat untuk berkembang biak sampai pada jumlah yang membahayakan. Agar bisa tumbuh, bakteri memerlukan waktu, makanan, air dan kondisi hangat. Makanan yang sangat cocok untuk pertumbuhan bakteri umumnya makanan basah seperti daging, telur, susu dan produk-produk olahannya. Suhu dan waktu merupakan dua faktor yang paling mudah dikontrol untuk mencegah keracunan makanan. Kisaran suhu antara 5 – 60ºC merupakan daerah bahaya karena bakteri tumbuh cepat pada kisaran suhu ini. Untuk keamanan pangan, sebaiknya makanan disimpan pada suhu diatas 60°C atau kurang dari 5°C. Sumber pencemaran mikroba pada makanan, dapat berasal dari pekerja, bahan baku makanan, peralatan yang kotor, air, udara (debu), tanah, sampah, binatang peliharaan, serangga dan binatang pengerat. Binatang ternak (ayam, sapi), hewan peliharaan (kucing, anjing, burung), binatang pengerat (tikus) dan serangga (lalat, kecoa, dan lain-lain) juga dapat mengkontaminasi pangan. Binatang-binatang ini memakan dan meninggalkan kotoran, rambut/bulu dan potongan tubuhnya pada makanan dan merusak makanan (misalnya kutu beras yang dapat melubangi beras). Selain itu, binatang-binatang ini juga membawa mikroba penyebab penyakit pada tubuh atau saluran pencernaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s